A Stranger

A Stranger

A Stranger

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

How can we know light, without

Walking in the dark?

Thexandria.com – Sebagai yang terasing dari kumpulan orang-orang asing, matanya masih meraba dimana muara cahaya-cahaya ini, mega-mega kilau memekakan retina, mendudukannya pada ketidaksanggupan yang sadistik.

“Bagaimana kau ingin tau cahaya, bila tidak pernah berjalan ditengah kegelapan?”—ah, benar, dia harus melihat dunia secara holistik.

Kalimat itu selalu terngiang dalam pusaran kopi yang teraduk, atau jarum jam dinding yang tiap detiknya membunyikan suara, “tik, tik, tik”.

Sebagai orang yang nyaris setiap hari tidur kelewat malam, bangun di waktu pagi masih dibutakan kelam, jelas adalah sebuah keanehan.

Baca Juga Balada Para Pemendam Rasa

Apa siklus tubuhnya sedang kacau? Apa karena kandungan kafein yang overload? Atau karena abstraksi hati? Atau mungkin, karena ketiganya.

Yang jelas, dia merasakan zat endorfin seperti mengaduk-ngaduk potongan-potongan memori di kepalanya—yang kemudian melakukan kesepakatan jahat dengan adrenalin, hingga jantungnya terus berdebar-debar. Sambil senyam-senyum, tentunya.

Mereka mempermainkannya. Mereka yang tak lain, adalah dirinya sendiri. Sial, kutuknya.

“Hiduplah sebagaimana orang asing. Maka akan kau temukan beribu alasan, mengapa engkau tetap berjalan”, kalimat ini meluncur dengan sendirinya di lautan imajinya, seperti terilhami begitu saja. Mungkin jatuh dari langit?

“Dia menguasai salah satu bahasa eropa, dimana mungkin itu adalah bahasa paling eksotik sekaligus paling njlimet yang pernah kuketahui, Prancis. Dia memiliki seekor kucing dengan ras terkuat di seantero bumi, kucing oranye. Dia memiliki kemampuan dasar memainkan piano. Dia sudah bekerja. Dia… Dia… Dia…”

Tertahan. Hanya sebatas itu catatan di kepalanya menyadur bagaimana sosok perempuan yang menghantui kepalanya. Tentu, ia tak ‘menulis’ perempuan itu cantik. Karena, toh, dia memang cantik. Mungkin juga, dia hanya berusaha arif dan menghindari yang namanya klise. Ia menimbang-nimbang argumentasi yang terdimensi, pasti sang perempuan lebih daripada sekedar keparasannya. Pasti.

Dia merasa harus melengkapi ‘catatan’ di kepalanya sendiri. Sudah lama berselimut gelap, mungkin, ini waktunya, ia ‘mengenal’ cahaya.

How can we know light, without

Walking in the dark?

Petang Pertama

Semburat matahari diwaktu petang urung terlihat, di sebuah caffee berlantai tiga, laki-laki itu merasa resah. Ia terus melihat jam di tangan kanannya. Dunia serasa beku, waktu seperti berjalan sangat lamban.

Ini adalah hari special baginya. Bagaimana tidak, untuk kali pertama, dia akan bertemu langsung dengan sosok perempuan yang karakteristiknya sudah ia rangkum sebagian. Menguasai bahasa prancis, memiliki kucing, menyukai piano, dan sudah bekerja.

Jantungnya berdebar-debar, tak kalah berisik dengan suara pengunjung caffee yang lain.

Dari tadi, ia terus menoleh ke arah anak tangga. Setiap kali ada tanda-tanda orang akan datang, setiap itu juga wajahnya memancarkan ketakutan. Untuk laki-laki berusia 20 tahunan, ia merasa malu. Ia menyadari bahwa tingkahnya saat menunggu, sudah seperti remaja yang masalahnya hanya seputar bangun pagi, matematika, dan perasaanya sendiri. Beruntunglah, ia lekas mengambil alih suasana.

“Aku hanya ingin menambah ‘catatan’ dikepalaku, dan menjalani hidup seperti mereka yang terasing, aku adalah seorang penjelajah…” Katanya dalam hati.

Jelas ia bukanlah Ibnu Battuta, Marcopolo, Vasco da Gama, atau Columbus—para penjelajah abad terdahulu. Mungkin lebih tepat, apabila ia disebut sebagai orang asing yang mencintai ketidakdugaan dalam hidup. Ia mencintai resonansi tanda tanya dibalik tanda tanya. Rahasia dibalik rahasia.

Ah, itu, dia! Seseorang yang ia tunggu telah datang.

Mereka kemudian berpindah meja ke  tempat yang lebih rendah, ia pikir ini bagus, setidaknya frekuensi dialektika mereka bisa ikut membumi. Mencari kesederhanaan serta kejujuran yang berserakan di lantai.

“Kenapa mau berkenalan dengan orang asing?” Sambil membenarkan duduknya, ia bertanya mencari jawaban dari pelupuk bibir lawan bicaranya.

Lalu begitulah… Dua anak manusia ini, beradu topik mulai dari perspektif, pengalaman, warna favorit, genre lagu favorit, masa kecil, kejenuhan, kedewasaan, dan apapun yang semuanya terkandung dalam kehidupan itu sendiri.

Mereka adalah juara pada malam itu. Juara 1 dalam variasi obrolan. Sekaligus, juara 1 sebagai pengunjung yang paling berisik.

Rambutnya yang panjang, tinggi semampai, dan keteduhan itu, hilang kemudian bersama malam yang berdansa dengan mimpi-mimpi manusia.

Selesailah pertemuan pertama kalinya itu. Si perempuan, terlebih dahulu meninggalkan meja dan hanya menyisakan dua gelas kosong dan—-keterpanaan dari dua bola mata laki-laki yang mensyukuri kemisteriusan hidup.

Bagaimana sekarang? Apakah ia sudah melihat bagaimana kekuatan cahaya mampu meluluhlantakan ketiadaan? Gelap memang tak buruk, namun terang, adalah jawaban dari pengelanaan yang panjang.

Ia lantas menopang dagu dan merenung. Benar kata Einstein. Gelap sejatinya tidaklah ada, gelap bisa ada, jika tak ada kehadiran cahaya.

Senyum terukir di wajahnya, yang kata perempuan tadi, “kamu enggak terlihat seperti usiamu, kamu terlihat lebih muda”, namun bukanlah itu yang membuat ia tersanjung, melainkan ‘rahasia-rahasia’ yang tersingkap dari tabirnya .

Baca Juga Tumbang Bersama Kelam di Penghujung Malam (3)

“Dia menyukai warna abu-abu. Dia seorang Taurus. Dia gagal berlibur ke Bali. Dia bisa menonton bioskop dua kali dalam sehari. Twilight adalah film favoritnya. Dia suka bakso aci. Dia suka pedas. Kadangkala dia jenuh dengan kota ini. Dia seorang yang percaya dengan prinsipnya. Dia menyukai basket. Dia memakai jam di tangan kiri. Dia tidak boleh pulang dari jam 10 malam. Dia sangat mencintai orang tuanya. Dan dia sudah sangat terbiasa dengan gemuruh pesawat terbang.”

Sempurna! Rangkuman soal sosok perempuan itu telah bertambah.

Namun, kini ia seperti berdiri ditengah kegamangan.

“What am i thinking? I’m just a stranger…”

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.