A moment A Love, A Dream, A Kiss, A Cry, Our Rights, Our Wrongs

A moment A Love, A Dream, A Kiss, A Cry, Our Rights, Our Wrongs

A moment A Love, A Dream, A Kiss, A Cry, Our Rights, Our Wrongs

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

Menjadi muda mungkin adalah perumpamaan sangkar emas, di dalam terasa kuat, sedang keluar dapat bebas, menyentuh kaki-kaki langit, mungkin?

Peralihan dari remaja menuju dewasa boleh jadi adalah sebuah perjalanan cinta dan spiritual yang hangat sekaligus kelam. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, jika melihat orang-orang dari atas gedung pencakar langit akan sesedih ini. Semua terasa kecil, semua terasa jauh, suara-suara berlangsung samar, hanya ada bunyi-bunyian dari kendaraan, oh tidak, kita menyakiti langit!

Lewat sepasang headset, kita berbagi perspektif dengan burung-burung gereja yang memakan remahan-remahan rumah. Dan mereka berkata, “sial! Ini hari yang buruk.” Langit membalas dendam, ditimpakannya berliter-liter air ke bawah, namun sepotong lagu ini menyadarkan kita, tak ada pembalasan disini, melainkan sebuah kesedihan akut, irisan tangis bagai jari yang teriris.

Kemudian hari melaju pelan, sebab mereka membenci senin. Wajah-wajah layu berlarian mengejar waktu, sedangkan airport dipenuhi penumpang lintas negara, kemanakah mereka? London? Paris? Monte Carlo? Atau mungkin ke Bermuda agar tak ada yang tau?

Tertujulah kita semua kepada mereka yang paling sumringah memukul senin. Para pemulung cilik dan tuna wisma, semoga masih ada secercah belas kasih dari Tuhan yang Maha Pengasih.

Di pojok yang lain, sepasang kekasih membakar dunia dengan angan-angan yang penuh! Semua terasa semu bagi berdua, yang lain fiksi, mereka yang paling nyata, seorang komedian murahan menimpal, “dunia milik berdua, yang lain ngontrak!”

Dan tak ada sesal hari itu, selama bersama, selama berdua! Mereka menantang sekawanan singa yang lapar di savana Afrika, menembus belantara amazon, mencoba bertemu ‘tuhan’ dengan ayahuasca, dan tidur telanjang di sebuah apartemen murah di pinggiran kota Michigan.

Ditatapnya lamat-lamat sepasang bola mata perempuannya. Terlihat lah gugusan galaksi megah, dan yang paling bikin bahagia? Sebuah bintang jatuh dari sabuk orion memilih lepas dari kawanannya.

Tenanglah mereka kali ini, ada lelap untuk malam ini, besok, mereka sedia mati dan menyerahkan diri.

“Tunggu dulu!” Si perempuan menatap galak.

“Kita belum merampok bank!”

Berpeluh dahi laki-laki itu, kali ini, ada secakah mimpi untuk menikmati ketenangan, tak lagi berhuru-hara menodong dunia. Subuh nanti, ia terlalu takut membuang sepucuk pistolnya ke sungai, atau ke daratan Arizona sekalian!

Bukan mati yang ia takutkan, namun terpisah dari belahan jiwanya, sekali lagi, ia menatap perempuanya yang mendadak bangun dan tengah mengaitkan bra hitamnya di punggung belakang.

Si perempuan girang, terlihat senyummya menyimpul dari pantulan cermin.

Tak ada yang lebih nelangsa selain auman serigala di bawah purnama. Mereka berdua mengendarai sebuah mobil tua hasil curian milik seorang musisi yang kehabisan ide menulis lagu. Dilewatinya jalanan sewaktu subuh, sebuah jaket kulit berwarna coklat senada dengan gaun hitam selutut membuat si perempuan tak ubahnya seperti baru pulang dari club malam, terlihat begitu hangover.

Yang menjadi masalah adalah, tuntutan agar si laki-laki selalu terlihat kuat, padahal, hatinya tak lebih baik dari kekasihnya, begitu rapuh, pernah retak, dan nyaris hancur berkeping.

Genggaman tangan si perempuan merebuh ketakutan menjadi kekuatan, sekarang adalah waktu untuk menjadi liar, sorot lampu dari bintang-bintang mengarah hanya ke mereka berdua, ini panggung mereka, tak perlu lagi ada perdebatan antara heliosentris atau geosentris, yang ada hanyalah lovesentris!

Sebuah ciuman mendarat tepat di bibir kering laki-laki yang mulai mengendalikan suasana, lidah mereka bertukar liur bak zam-zam di tengah gurun Timur Tengah.

Di depan lokasi target perampokan, setelah usai cumbuan binatang-binatang jalang, si perempuan menertawakan kekasihnya dengan sebal.

“Kau tak terlihat keren lagi  seperti kali pertama kita bertemu dulu! Kemarilah, sayang. Kita tak benar-benar harus menjadi yang tak bisa diatur.”

Maka pelukan yang terakhir itu tak lagi pernah terlepas. Tubuh mereka, dua anak manusia memancarkan bintik-bintik cahaya yang memuai ke atas. Perlahan, dari pucuk kaki, mereka terhapus setitik demi setitik, terus bergerak ke badan, leher, hingga menyisakan detik-detik terakhir di batas hidung, mata, dahi, dan rambut yang usang. Mereka bercakap lewat tatapan.

Baca Juga: Jack of All Trades Cukup Menggoda, Ini Buktinya

“Aku tak pernah sebahagia ini.” Tajam, tatapan terakhir si perempuan.

“Terimakasih telah menjadi kebenaran di atas kesalahanku.” Perempuan itu berkata seperti auman serigala di bawah purnama. Sepilu itu.

Dan lenyaplah dua raga, sedang jiwa mereka bergandengan tangan menuju Dharma-dharma yang lain.

Kini, hanya tersisa sebuah mobil tua hasil curian, dengan radio nya yang masih menyala, memutar lagu penghantar kepergian yang paling tragedi.

Sweet disposition

Never too soon

Oh, reckless abandon

Like no one’s watching you

A moment, a love

A dream aloud

A kiss, a cry

Our rights, our wrongs

A moment, a love

A dream aloud

A moment, a love

A dream, aloud

So stay there

‘Cause I’ll be coming over

And while our blood’s still young

It’s so young, it runs

And won’t stop ’til it’s over

Won’t stop to surrender

Sumber Foto: nme.com

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.