#67TahunCakNun Teruslah Membersamai Kami Sebagaimana ‘Hujan dikala Gersang’

Ulang Tahun Cak Nun

67TahunCakNun Teruslah Membersamai Kami Sebagaimana ‘Hujan dikala Gersang’

Penulis Rizaldi Dolly | Editor Rizaldi Dolly

“jancuk Cak Nun! Gara-gara dia, aku bisa memaafkanmu, lillahi ta’ala!”

Thexandria.com – Majelisnya (red: perkumpulan) selalu ramai dipenuhi orang-orang berbagai latar belakang, lintas usia. Dari yang tindikan, tatoo-an, sampai yang nyaman dengan celana jeans robek di dengkul.

Begitupun di virtual, rekaman majelisnya ditonton oleh banyak insan yang rindu, namun daya membatasi hanya dari ujung gawai.

Emha Ainun Nadjib, meskipun lebih ‘nyaman’ dipandang sebagai budayawan. Namun nyatanya, banyak kalangan ‘mem-baiat’ kehadiran sosoknya sebagai ‘guru’, ‘dosen’, ‘kyai’, ‘bapak’, ‘kakek’, bahkan ‘teman’ sekalipun.

Kalimat-kalimat yang terlontar darinya, sudah seperti ‘hujan’ bagi ‘tanaman-tanaman’ yang nyaris mati kekeringan.

Tak sekedar retoris teoritis, apa yang diujar, buah dari rentetan pengalaman hidup baik horizontal maupun vertikal.

Cak Nun pernah ‘kuliah’ di jalan Malioboro, Jogja, bersama pujangga sepi, Umbu Landu Parangi. Bagi Cak Nun, Umbu adalah sesosok guru yang tak sekedar bertemankan sepi, namun juga, menyemai gairah kesusastraan.

‘Perkuliahan jalanan’ itu, boleh jadi menjadi bercak dari jejak mengapa Cak Nun dapat dengan mudah diterima kalangan-kalangan ‘musafir’ kehidupan, anak-anak muda yang berjalan memaknai hari kemarin, kini dan esok.

Sebagian mengingat Cak Nun sebagai ‘partner in crime‘ Gus Dur dalam arti yang lain. Partner yang memang terikat dalam jalur nasab, dimana para kakek mereka, di era nya sama-sama menjadi tokoh penting dalam porsinya masing-masing. Keabadian sejarah terus berlanjut, Cak Nun selalu hadir bersama Gus Dur, medio 98, Cak Nun ikut serta dalam menjaga Indonesia dari kekacauan politik yang terjadi, ikut mengawal reformasi, dan kelak, ia juga yang berkata pada Gus Dur menjelang lengser, “Gus Anda ini akan naik kelas. Jadi rakyat berarti diatas Presiden.”.

Setelahnya, Cak Nun seperti menyepi dari gelanggang ketokohan nasional, membaur bersama mereka-mereka di akar rumput. Maiyahan, kata orang-orang.

Diwaktu dimensi bangsa mengalami dekadensi. Cak Nun di tengah Maiyah-nya, membuka cakrawala berpikir soal banyak hal. Dari mulai bertutur laku sebagaimana bani Adam, sampai membuka titik-titik ke-ilahi-an.

Cak Nun di-interpretasikan sebagai ‘penggagas pemaknaan ulang kesepian’, darinya, kita menjadi mengerti bahwa sendiri atau sepi, tak sepenuhnya buruk atau salah. Malahan, hal tersebut dapat menjadi momentum untuk kita menapaki kembali dimensi spiritual yang mutlak vertikal.

Seseorang yang dulu dirasa asing bagi dirinya sendiri, padahal ia manunggaling, satu padu, pernah berkata dengan kesal, “jancuk Cak Nun! Gara-gara dia, aku bisa memaafkanmu, lillahi ta’ala!” —proses kontemplasi itu menemukan titik terangnya, mereka yang berkelumit dengan dirinya sendiri, menjadi rujuk, sebab Cak Nun mendobrak ke-aku-an menjadi ke-kami-an.

67 Tahun Cak Nun
Gambar hanya ilustrasi

Banyak peran diantara umurnya yang berjalan, namun teruslah begitu, teruslah hadir bersama akar rumput, kami-kami yang kerap gamang menentu esok. Paling tidak, nasehatmu selalu menjadi bekal ‘navigasi’, terimakasih telah ridho mewakafkan diri menjadi ‘bintang utara’.

67 tahun sudah, Tuhan telah mem-plot kelahiran dan kehadiran njenengan sebagai umatnya yang langka, langka karna sudi menjadi lilin, biar habis terbakar nyala-mu, terangmu ada untuk kami yang takut kegelapan.

Sama halnya dengan Gus Dur, sosok-sosok seperti njenengan, mungkin tak terlahir dalam waktu 10, 20, atau 30 tahun. Mungkin 100 tahun sekali!

Adakah gerangan dirimu lelah, Cak? Tubuhmu mungkin menyesuaikan dengan hukum dunia, dimana tak bisa dinafikan, njenengan semakin tua. Tapi sorot mata, memang tak pernah sanggup untuk mendusta, njenengan relakan usia untuk menemani kami, dan njenengan berdiri diatas ke-ikhlas-an karna Tuhan semata.

Baca Juga: “Lockdown 309 Tahun”, Sebuah Narasi Satir-an yang “Melempar” Kita ke Lautan Ke-illahi-an

Begitupun untuk Ibu Pertiwi. Njenengan perlakukan adab diatas ilmu, njenengan mengajarkan kami untuk mengasihi bangsa ini, negara ini, dengan sebagaimana menganalogikannya seperti Ibu yang ringkih memasak di dapur, haram untuk menghardik, bahkan berkata, “ah!”, sekalipun. Wajib mengasihi.

In lam takun ‘alayya ghodlobun falaa ubali.

“Asalkan engkau wahai Tuhan, tidak marah kepadaku maka kuterima apa saja nasibku di dunia”

Semoga rahmat Tuhan beserta njenengan, Cak. Teruslah membersamai kami, seperti hujan yang membasahi bumi dikala kering.

Akan kami ingat pesan njenengan,

“Orang Maiyah harus siap bahwa hidup ini tidak sama dengan apa yang kamu inginkan, tidak sama dengan apa yang kamu pikirkan, bahkan hidup ini bisa saja berlaku sebagaimana yang kamu benci.”

Share Artikel:

Leave a Reply

Your email address will not be published.